Seringkali kita mendapati realita hidup yang terkadang tak sesuai
dengan ekspektasi kita atau bisa juga mengalami sebuah keadaan yang tak pernah
kita duga. Sehingga menciptakan ragam emosi dan ekspresi, silih berganti
seiring dengan situasi. Sedih, senang, marah, sakit, sehat, resah, tenang,
kecewa, bangga dan lain sebagainya. Kenapa
hidup ini gak bahagia terus saja ? atau sedih terus sepanjang hayat ? kenapa
kadang diatas juga kadang dibawah ?
Konon katanya nun jauh disana, ada yang kaya raya bergelimang
harta, tapi hidupnya tak bahagia sebab hatinya hampa sanak keluarga jauh jiwa dan
raga. Namun ada pula yang jika dilihat dari rumahnya bisa dibilang cukup
sederhana, rezeki dengan standart yang penting berkah, namun sanggup
menghangatkan dan menentramkan jiwa, sehingga memunculkan aura syukur tanpa
syarat, tulus tanpa dibuat buat. Sawang – sinawang kalau kata orang jawa. Ada kelebihan ada kekurangan.
Begitulah dunia ini disusun agar seimbang, agar ada pembelajaran untuk mereka
yang diciptakan sempurna dengan anugerah akal dan hati. Iya, untuk kita semua,
manusia bersama fitrah penciptaannya.
Mari kita bayangkan sejenak, mungkin bumi tak sanggup bekerja tanpa
adanya susunan rapi tata surya. Matahari mungkin akan kelelahan jika tanpa
adanya bulan. Tak akan ada cerita mana Si Siang dan mana Si Malam. Dijadikannya
serba berpasang – pasangan agar kamu mengingat kebesaranNya (Adz-Dariyat :
49), yang telah menghadirkan makna saling menyeimbangan saling menyempurnakan
yang semulanya merupakan sebuah ketidak sempurnaan didunia ini. Malam tidak
akan selamanya malam karena ada siang, begitu pula suka dan duka. Tak ada suka
yang terus berkepanjangan dan sebuah kedukaan yang abadi.
Dunia dan akhirat sama sama memiliki tabiat, Maka bijaklah
menyikapi antar keduanya, dunia sementara akhirat selamanya, kesempurnaan di
dunia hanyalah sebuah keniscayaan, kesempurnaan hakiki hanya berada di negeri
asal kita, yaitu surgaNya. Siapkan ilmu agar kita bisa menjadikan Sabar dan
syukur sebagai teman melangkah, harap dan takut sebagai etika seorang hamba
disepanjang mengarungi kehidupan dunia. Sehingga kita mampu memandangnya dengan
sudut pandang “Tidak sempurna adalah
sempurna”.
Komentar
Posting Komentar